Dakwah, Pendidikan, Sosial, Muslimah, Lingkungan, Kesehatan

Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Tanda Orang Beriman Yang Sebenarnya


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ (3) أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4


Sesungguhnya orang beriman itu hanyalah mereka yang disebut nama Allah bergetar hatinya, jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya ayat itu membuat iman mereka makin bertambah, dan hanya Kepada Rabb mereka bertawakkal . Yaitu orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian (harta) yang Kami rezkikan kepada mereka. Mereka itulah orang beriman yang hakiki, dan mereka akan memperoleh kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Tuhan mereka, ampunan, serta rezki yang mulia” (terj. Qs. Al-Anfal ayat 2-4).

Iman itu bukan sekadar angan-angan, tapi keyakinan yang tertanam dalam hati dan dibuktikan kebenarannya oleh amal perbuatan (Hasan al-Bashri rahimahullah)
***
Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, iman bukan sekedar keyakinan hati yang diucapkan di bibir. Tapi ia merupakan perpaduan antara keyakinan hati, perkataan lisan, dan perbuatan anggota badan. Banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan bahwa amal perbuatan merupakan bagian dari iman. Dantaranya firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 143; “Sungguh, (Pemindahan qiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyi-nyiakan iman (shalat)mu. (terj. Qs. Al-Baqarah:143). Makna iman dalam kalimat “Allah tidak akan menyi-nyiakan imanmu” adalah shalat kalian menghadap baitul maqdis sebelum pengalihan qiblat ke Ka’bah. Artinya, dalam ayat di atas dengan tegas amalan shalat disebut oleh Allah sebagai Iman.

Dalam al-Qur’an dan hadits Nabi sering disebutkan ciri orang beriman berupa amal shaleh. Namun tulisan ini hanya akan fokus pada ciri dan sifat orang beriman yang Allah sebutkan dalam surah al-Anfal ayat 2-4. Alasannya adalah karena dalam ayat ini diawali dengan, “Innamal mu’minuunnaldziyna . . . ; Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah mereka yang . . .”. dan dikhiri dengan, “Ulaika humul mu’minuuna haqqan, . . . mereka itulah orang-orang beriman yang sebenarnya”.

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan lima sifat orang beriman, yakni;

1. Bila disebut nama Allah, hatinya bergetar
Idza dzukirallahu wajilat quluubuhum; Bila disebut (nama, janji, dan ancaman) Allah bergetarlah hati mereka. Inilah sifat pertama orang beriman yang disebutkan oleh Allah dalam ayat ini. Bergetarnya hati mereka menunjukan rasa takut, sikap ta’dzim (pengagungan), dan cinta kepada Allah yang tertanam di hati mereka.

Dan diantara dzikrullah yang dapat menggetarkan hati orang-orang beriman adalah bacaan a-Qur’an. Bahkan tidak ada sesuatu yang paling besar pengaruhnya dalam mengingatkan tentang Allah dan memperingatkan untuk tidak menyelisihi perintah-Nya melebihi al-Qur’an. Karena dalam Al-Qur’an terdapat nama-nama Allah, janji dan ancaman-Nya. Allah Ta’ala sebutkan dalam surah Az- Zumar ayat 23; Allah menurunkan perkataan terbaik (yaitu) Kitab Al-Qur’an yang serupa ayat-ayat-Nya lagi berulang-ulang. Gemetar karena-Nya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya. Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka karena mengingat Allah. (terj. Qs. Az-Zumar :23)
Selain itu getaran hati yang muncul setelah mendengarkan nama Allah tersebut juga melahirkan ketenangan hati. Karena hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang. Sebagamana firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 28. Rasa tenang tersebut merupakan cerminan perasaan lapang dada yang ditimbulkan oleh cahaya makrifat dan tauhid. Karena hati yang bergetar ketika mendengar nama, janji, dan ancaman Allah juga melahirkan rasa takut berbuat maksiat serta semangat dan energi gerak melakukan ketaan kepada Allah.

2. Iman Mereka Bertambah bila Mendengar Ayat Allah

Sifat mereka yang kedua adalah, bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka iman mereka bertambah. Yakni keyakinan mereka kepada Allah bertambah mantap, dan bukti dari pertambahan iman tersebut adalah meningkatnya amal shaleh.

Hal ini menunjukan pula bahwa sarana efektif untuk meningakatkan keimanan adalah mendengarkan bacaan al-Qur’an dari orang lain. Karena mendengarkan melalui bacaan orang lain lebih membantu dan mengkondisikan untuk tadabbur (merenungkan kandungan makna) suatu ayat. Sebab saat mendengar, seseorang bisa lebih fokus medengarkan dan memikirkan serta tidak disibukkan fikirannya dengan memikirkan tatacara baca, tajwid, irama lagu, dan sebagainya. Rasulullah sendiri kadang meminta sahabat untuk memperdengarkan bacaan al Qur’an kepada beliau. Seperti beliau pernah meminta kepada ibn Masud radhiyallahu ‘anhu untuk membacakan al-Qur’an kepadanya.

3. Bertawakkal kepada Allah

Tawakkal adalah bertumpu dan bersandar sepenuhnya hanya kepada Allah yang disertai dengan usaha mencari sebab (sarana). Orang beriman hanya bertawakkal kepada Allah. Karena mereka tahu, tawakkal merupakan ibdah dan ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata. Tawakkal merupakan tingkatan tauhid tertinggi. Oleh karena itu, ciri mukmin sejati adalah tawajjuh kepada Allah semata dan hanya berdo’a kepada-Nya.

Dalam kalimat wa ‘alaa rabbihim yatawakkalun pada ayat di atas didahulukan penyebutan Allah sebagai objek yang dituju dalam bertawakkal. Hal itu menunjukan dua hal; pertama, Tawakkal hanya ditujukan kepada Allah Rabb (Tuhan) semesta alam. Karen Dialah tumpuan dan dan sandaran satu-satu-Nya bagi setiap makhluq. Kedua, Menunjukan kuatnya tawakkal orang-orang beriman kepada Allah. Mereka hanya bertawakal kepada Allah, serta tidak bertumpu dan bersandar kepada selain-Nya.

4. Menegakkan Shalat

Ini merupakan salah satu sifat orang beriman yang paling sering disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam. Mendirikan atau menegakkan shalat. Bukan sekadar mengerjakan shalat. Karena yang dimaksud dengan iqamatus Shalah (mendirikan/menegakkan shalat) adalah mendirikan shalat dengan memenuhi rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, sunnah-sunnhnya, dan adab-adabnya.

Selain itu menegakkan shalat juga bermakna menunaikan shalat tersebut pada awal waktunya secara berjama’ah di Masjid dan melaksanakannya dengan khusyu’. Penunaian dan penegakkan shalat secara sempurna dengan menyempurnakan rukun, syarat,wajib, sunnah, dan adabnya serta dilakukan dengan khusyu dan tertib; waktu, cara, dan tempat diharapkan membuahkan hasil mencegah seseornag dari perbuatan keji, mungkar, dan sia-sia.

5. Menginfakkan Sebagian Rezki Yang Mereka Peroleh

Rezki yang dimaksud di sini tidk hanya berupa harta. Tapi termasuk di dalamnya harta, ilmu, kedudukan, dan kesehatan. Orang beriman menginfakkan kesemua itu sebagai bukti iman dan taatnya kepada Allah Ta’ala. Infaq di sini bisa mencakup yang wajib maupun yang sunnah. Karena Ibadah kepada dengan harta (‘ibadah maliyah) memiliki ragam bentuk, seperti zakat, infaq, sedekah, waqaf, hibah, hadiah, dan memberi pinjaman.

Dalam ayat al-Qur’an, ibadah maliyah seperti infaq memiliki kedudukan yang sangat utama. Dalam sebagian ayat diisyaratkan bahwa ibadah maliyah berupa zakat, sedakah, infaq, dan sebagainya merupakan ciri utama orang beriman dan bertakwa yang akan memperoleh kemulian dan pemuliaan dari Allah berupa petunjuk (hudan), rezki, al-falah (keberuntungan), yang akan berujung pada derajat yang tinggi di Surga Firdaus pada hari akhir kelak. Diantara ayat yang menerangkan hal itu adalah Surah Al-Mukminun ayat 1-11 dan Surah Al-Anfal ayat 2-4 di atas.

Bukan Hanya Itu
Ciri dan sifat orang beriman bukan hanya lima poin yang disebutkan di atas. Meski Ayat di atas ditutup dengan penegasan bahwa, “Mereka itulah orang-orang beriman yang sebenar-nya”, namun hal ini bukan untuk membatasi sifat orang beriman pada lima poin itu saja. Tapi karena kelima sifat tersebut mewakili amalan hati yang paling afdhal dan amalan anggota badan yang paling afdhal pula. Sifat-sifat mukminin dalam kelima poin di atas mencakup ibadah qalbiyah (hati), badaniyah (badan), dan maliyah (harta). Bahkan ada amalan yang menggabungkan qalbiyah, qauliyah, dan badaniyah sekaligus seperti ibadah shalat. Wallahu Ta’ala a’lam. (Syamsuddin//Mawasangka, 17-02-2015).

Minggu, 17 Mei 2015

Hakekat dan Kedudukan Tauhid

1. Tauhid adalah tujuan Penciptaan Jin dan Manusia

Pada hakekatnya tauhid merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah Ta’ala. Sebab manusia dan jin diciptakan oleh Allah untuk men-tauhid-kan-Nya melalui ibadah.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadKu.” (QS. adz-Dzaariyat [51]: 56)

Makna liya’budun dalam ayat tersebut adalah liyuwahhiduun (untuk men-tauhid-kan Aku). Karena perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Sedangkan larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu menyembah kepada selain-Nya disamping menyembah Allah. (Al-Ushul ats-Tslatsah, hlm. 7).

Jadi, esensi dari ayat tersebut adalah tauhid. Sebab para ulama salaf menafsirkan kata Illa Liya’budun (supaya mereka beribadah kepada-Ku) dengan Illa Liyuwahhidun (supaya mereka men-tauhid-kan Aku). Karena setiap ibadah harus dikerjakan semata-mata karena Allah. Sementara pemurnian ibadah kepada Allah merupakan inti dari tauhid itu sendiri. Penafsiran ini berpijak pada tugas utama para Rasul, yaitu mengajak manusia untuk men-tauhid-kan Allah dalam ibadah. 

Oleh karena itu barangsiapa yang belum meralisasikan tauhid dalam hidupnya, maka sesungguhnya ia belum menghambakan diri kepada Allah. Ini makna sebenarnya dari firman Allah, “dan sekali-kali kalian (hai orang kafir) bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah”. (terj. Qs. Al-Kafirun:3). (Kitabut Tauhid).

2. Tauhid Merupakan Inti Dakwah para Rasul
Tauhid merupakan misi dan inti da’wah para Rasul utusan Allah. Semua Rasul diutus oleh Allah untuk mengesakan Allah melalui ibadah dan meninggalkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah yang merupakan lawan dari tauhid. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”. (QS. an-Nahl [16]: 36)

Dalam ayat tersebut Allah menerangkan, Dia mengutus Rasul pada setiap ummat untuk menyeru dan menda’wahi ummatnya agar beribadah kepada Allah (u’budullah) dan menjauhi thaghut. Kedua seruan ini mengandung tauhid. Artinya para Nabi dan Rasul tersebut diperintahkan oleh Allah untuk mengajak ummatnya men-tauhid-kan Allah. Sebab dalam kata u’budullah (sembahlah Allah/beribadahlah kepada Allah) terdapat ajakan untuk ber-tauhid. Sedangkan dalam kata wajtanibut Thaghut terkandung perintah untuk meninggalkan syirik yang merupakan lawan dari tauhid. Karena diantara makna thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah Ta’ala.  

Di dalam ayat tersebut juga terkandung pesan, Allah subhanahu wa ta’ala  menegakkan hujjah-Nya telah kepada setiap umat manusia, baik itu umat terdahulu maupun umat di zaman sekarang. Yaitu bahwasanya telah diutus kepada setiap mereka seorang Rasul yang seluruhnya menyeru umatnya kepada satu hal yaitu: (seruan untuk) beribadah hanya kepada Allah saja tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Di dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. al-Anbiyaa [21]: 25).

Ayat tersebut mengabarkan bahwa setiap Rasul mendapatkan wahyu (perintah) dari Allah untuk menyampaikan kepada ummat mereka Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allah. Oleh karena mereka diperintahkan untuk beibadah kepada Allah semata. 

3. Tauhid Merupakan Perkara Yang Pertama diperintahkan oleh Allah kepada hambaNya Sebelum Kewajiban Yang Lain
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. al-Isra [17]: 23)
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bertauhid terlebih dahulu yaitu dengan berfirman: “Jangan menyembah selain Dia”. Baru setelah itu Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita.

Dalam klimat “La ta’budu Illa Iyyahu” (Jangan kalian beribadah kepada selain-Nya)  terkandung perintah untuk memurnikan ibadah kepada Allah Ta’ala semata. Hal ini semakna dengan kalimat tauhid La Ilaha Illallah. Sebab pemurnian ibadah hanya kepada Allah merupakan realisasi dan pembuktian dari kalimat tauhid La Ilaha Illallah.

Ayat lain yang semakna dengan ayat di atas adalah firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 151, “Katakanlah (wahai Muhammad) marilah aku bacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “janganlah kamu berbuat syirik  sedikitpun kepada-Nya”. (terj. Qs. Al-An’am:151). Ayat tersebut menyebutkan beberapa hal yang diharamkan oleh Allah. Pertama  adalah syirik yang merupakan lawan dari tauhid, bahkan perusak tauhid nomor wahid. Larangan berbuat syirik berarti perintah untuk men-tauhid-kan Allah Ta’ala.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata tentang ayat 251 surah Al-An’am di atas, “Siapa yang ingin melihat wasiat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diatasnya terstempel oleh cincin beliau, maka hendaknya ia membaca firman Allah; “Katakanlah (hai Muhammad), mari kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, dan (kubacakan), sampai . . .  Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain”.
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman, “Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (Terj. Qs. An-Nisa:36). Ayat ini disebut dengan ayat tentang sepuluh hak. Karena dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan sepuluh hal yang diawali dengan perintah beribadah kepada Allah dan larangan berbuat syirik. Sementara beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik mer upakan realisasi dari tauhid.

4. Tauhid adalah Hak Allah atas HambaNya
Tauhid merupakan hak Allah dari setiap hamba-Nya, sebagaimana penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau bertanya kepada sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu: ”Apakah hak Allah atas hambaNya?”, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya”, jawab Mu’adz. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Hak Allah atas hambanya adalah agar mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa hak Allah dari setiap hamba-Nya adalah ibadah yang tidak dinodai kesyirikan. Artinya tauhid. Karena pemurnian ibadah kepada Allah merupakan inti dari tauhid. Sehingga dalam kalimat “mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” tersurat  pesan bahwa hak Allah atas hamba dan kewajiban hamba kepada Allah adalah, “mereka men-tauhid-kan-Nya melalui ibadah”.

Demikian penjelasan tentang hakikat dan keutamaan tauhid. Semoga Allah Ta’ala memberi kemudahan untuk merealisasikannya dalam seluruh aspek kehidupan. Semoga Allah menghidupkan dan mematikan kita di atas kalimat tauhid. (Al-Faqir lla ‘afwi Rabbihi, Abu Muhammad Syamsuddin Al-Munawiy).

Sumber Utama: Kitabut Tauhid, karya al-Imam al-Mujaddid Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah disertai tambahan penjelasan dari  Ghoyatul Murid Fi Syarhi Kitabit Tauhid, Karya Syekh Shaleh bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syekh.